Rabu, 14 Mei 2008

Akhlak Sufi Rasulullah saw


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal'khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal'hadi ila shirotikal mustaqiim wa'sholallahu alaiihi wa'ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Syyaikh Abu Nashr As-Sarraj

(Menyambut Maulid Nabi saw.)
Syekh Abu Nashr as-Sarraj' -rahimahullah - berkata: Diriwayatkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau pernah bersabda
"Sesungguhnya Allah telah membina mental (akhlak)ku, kemudiain Dia membinanya dengan sangat baik." (H.r. al-Askari dari Ali r.a.).
Beliau juga bersabda:"Saya adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah dan yang paling takut kepada-Nya." (H.r. Bukhari-Muslim)

Rasulullah juga bersabda: "Aku disuruh memilih antara menjadi seorang Nabi yang menjabat raja atau menjadi seorang Nabi yang hamba. Kemudian Jibril a.s. memberiku isyarat agar berendah hati. Lalu aku menjawab pilihan itu: Akan tetapi aku lebih memilih menjadi Nabi yang hamba; Dimana suatu hari aku kenyang dan di hari yang lain aku lapar". (H.r. ath Thabrani dari IbnuAbbas, Baihaqi dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Diriwayatkan pula, bahwa beliau bersabda:"Aku ditawari dunia, namun aku menolaknya." (H.r. Ibnu Abi ad-Dunya, Ahmad dan ath-Thabrani dari Abu Buwaibiyah).

Beliau juga bersabda: "Andaikan aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud niscaya akan aku infakkan demi agama Allah, kecuali sedikit yang aku sisakan untuk menutupi hutang." (H.r. Bukhari-Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagaimana juga diriwayatkan, "Bahwa Rasulullah saw. tidak menyimpan makanan untuk esok hari. Belum pernah sekali menyimpan makanan untuk keluarganya untuk masa satu tahun yang juga beliau persiapkan untuk orang-orang yang datang kepadanya." (H.r. Bukhari-Muslim dari Umar r.a.).

Juga diriwayatkan, "Bahwa Rasulullah saw. tidak memiliki dua potong baju (gamis), tidak juga makan makanan yang diayak lebih dahulu. Beliau sampai wafat belum pernah sama sekali merasa kenyang dengan roti gandum. Itu dilakukan atas pilihannya sendiri (kondisi normal) dan bukan karena kondisi darurat. Sebab andaikan beliau mau memohon kepada Allah Azza wa Jalla, agar gunung dijadikan-Nya emas dan tidak akan dihisab di hari kiamat, maka Allah akan melakukannya." (H.r. ath-Thabrani, al-Bazzar dan Bukhari-Muslim).

Dan masih banyak riwayat yang semisal dengan Hadis-hadis di atas.

Diriwayatkan bahwa, Rasulullah saw bersabda kepada Bilal, "Berinfaklah wahai Bilal, dan janganlah engkau khawatir Pemilik Arasy mengurangi hartamu." (H.r. al-Bazzar, ath-Thabrani al-Qadhai dari Ibnu Mas'ud).

Diriwayatkan, bahwa Barirah pernah menyuguhkan makanan di depan Rasulullah saw., kemudian beliau makan sebagiannya. Kemudian pada malam kedua Barirah datang dengan membawa sisa makanan yang pernah disuguhkan kemarin. Rasulullah kemudian bertanya dan menandaskan, "Apakah engkau tidak takut, jika makanan ini nanti mengepulkan asap dihari Kiamat? Jangan sekali-kali engkau menyimpan makanan untuk esok hari, karena Allah Azza wa jalla akan memberikan makanan setiap hari'." (H.r. al-Bazzar).

Juga diriwayatkan, Bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mencacat suatu makanan sama sekali, jika berselera maka beliau makan, Jika tidak maka beliau tinggalkan. Dan setiap kali ditawari dua pilihan tentu beliau memilih yang paling sederhana (ringan). (H.r. Malik, Bukhari-Muslim dan Abu Dawud).

Nabi saw. bukanlah seorang petani, bukan pula seorang pedagang dan juga bukan seorang pembajak tanah.

Dan diantara sikap tawadhu' (rendah hati) beliau, tercermin pada cara berpakaian dan tindakan tindakan lainnya, dimana beliau mengenakan pakalan dari wool kasar (shiji), memakai sandal yang dijahit dengan benang, mengendarai keledai, memeras susu kambing sendiri, menambal dan menjahit sandalnya sendiri, menambal pakaiannya, beliau tidak merasa malu mengendarai keledai atau dibonceng di belakang. (Periwayatan Hadis ini dilansir dalam lafal yang beragam oleh beberapa ahli Hadis semisal Ibnu Majah al-Hakim, ath-Thabrani dan lain lain, pent.).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah tidak suka dengan cara hidup kaya dan sama sekali tidak takut miskin. Dalam hidup yang ditempuh bersama keluarganya, pernah selama satu dan dua bulan tidak mengepulkan asap dapurnya karena tidak ada bahan untuk memasak roti. Makanan utamanya hanyalah dua: kurma dan air. (H.r. Bukhari-Muslim dari Aisyah dan Abu Ya'la dari Abu Hurairah).

Diriwayatkan pula, bahwa istri-istrinya disuruh memilih antara dunia dengan Allah dan Rasul-Nya. Mereka kemudian memilih Allah dan Rasul-Nya. Dalam peristiwa ini turun dua ayat dalam surat al-Ahzab:

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, 'Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya aku berikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar'."(Q.s. al Ahzab: 28 9).

Dan di antara doanya ialah: "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin." (H.r. Tirmidzi, Ibnu Majah dari Said al Khudri dan athThabrani dari Ubadah bin Shamit. Namun Ibnu al-Jauzi dan Ibnu Taimiyah menganggapnya sebagal Hadis Maudhu').

Dan di antara doanya pula: "Ya Allah karuniakanlah rezeki kepada keluarga Muhammad makanan pokok yang cukup sehari dalam setiap hari." (H.r. Bukhari Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Abu Said al-Khudri dalam menerangkan sifat-sifat Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkannya: Rasulullah itu mengenakan pakaian wool kasar dan juga mengikat unta, menyiram tanaman, menyapu rumah, menambal sandal, menambal pakaian, memerah susu kambing, makan bersama pembantunya, tak segan-segan menumbuk gandum jika pembantunya letih, tidak malu untuk memanggul barang-barangnya dan pasar ke rumah keluarganya. Beliau juga selalu bersalaman dengan orang-orang kaya dan miskin. Selalu yang pertama (memulai) mengucapkan salam, tidak pernah menolak orang yang mengundangnya, tidak pernah meremehkan hidangan yang disuguhkan sekalipun hanya berupa kurma yang paling jelek.

Beliau sangat lembut perangainya, berwatak mulia, luwes cara bergaulnya, wajahnya berseri-seri, selalu tersenyum dan tidak pernah tertawa berbahak-bahak. Bila sedih tak pernah kelihatan kusut dan cemberut. Rendah hati tanpa harus rendah diri, dermawan tapi tidak boros. Hatinya lembut, selalu tunduk dan diam, pengasih kepada setiap muslim. Tidak pernah besendawa karena kenyang, dan tidak pernah mengulurkan tangannya kepada makanan (yang jauh).

Aisyah r.a. berkata, "Rasulullah itu lebih dermawan daripada angin yang bertiup secara bebas." (H.r. Bukhari Muslim).

Rasulullah saw. pernah memberi kambing sebanyak antara dua gunung kepada seseorang. Kemudian orang itu pulang ke kabilah (suku)nya dan berkata, "Sesungguhnya Muhammad memberi kepada seseorang sebagaimana pemberian orang yang tidak pernah khawatir jatuh miskin." (H.r. Imam Ahmad dan Muslim dari Anas).

Rasulullah bukanlah sosok yang suka berteriak-teriak, tidak juga sosok yang suka berkata kotor dan keji. (H.r. Tirmidzi).

Nabi Muhammad saw. makan di atas tanah, duduk di atas tanah, memakai baju mantel, duduk bersama-sama orang miskin dan berjalan di pasar. Beliau sering kali menjadikan tangannya sebagai bantal, dan mencukur sendiri. Tidak pernah tertawa lebar-lebar, tidak pernah makan sendirian, tidak pernah memukul pembantu (budak)nya sama sekali dan tidak pernah memukul seorang pun dengan tangannya kecuali demi membela agama Allah. Beliau tidak pernah duduk bersila, tidak pernah makan sambil bersandar.

Beliau pernah bersabda, "Aku makan sebagaimana makannya seorang hamba dan aku duduk sebagai mana duduknya seorang hamba." (H.r. Saad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Tirmidzi dari Aisyah)

Diriwayatkan, Bahwa Rasulullah saw. pernah mengikat batu di perutnya untuk mengganjal rasa lapar. Padahal andaikan beliau mau memohon kepada Tuhannya untuk menjadikan Gunung Abu Qubais sebagai emas tentu Dia akan mengabulkannya. (H.r. Bukhari-Muslim dari jabir dan Tirmidzi dari Abu Thalhah).

Rasulullah pernah membawa sahabat-sahabatnya ke rumah Abu al-Haitsam bin at-Taihan dengan tanpa diundang. Di sana beliau makan makanannya sendiri dan minum minumannya sendiri. Lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, "Inilah sebagian nikmat yang kalian tanyakan." (H.r. Malik, Tirmidzi dan Muslim dari Abu Hurairah).

Rasulullah saw. pernah diundang seseorang untuk datang ke rumahnya dengan membawa lima orang sahabatnya. Maka orang keenam tidak boleh masuk kecuali mendapatkan izin tuan rumah. (H.r. Bukhari Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dalam sebuah Hadis diriwayatkan, Bahwa Rasulullah saw. pernah memiliki pakaian gamis (khamishah) yang ada batik atau motifnya. Kemudian pakaian tersebut diberikan kepada Abu Jahm, sembari bersabda, "Hampir saja gambar ini membuatku terlena." Kemudian beliau meminta pakaian polos tidak bermotif dan kasar (anbjaniyyah) milik Abu Jahm dengan bersabda, "Tolong berikan kepadaku anbijaniyyah Abu Jahm". (H.r. Bukhari-Muslim).

Jenis-Jenis Taubat


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal'khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal'hadi ila shirotikal mustaqiim wa'sholallahu alaiihi wa'ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Taubat terbagi menjadi dua jenis. Pertama Taubat orang kebanyakan atau orang awam.Kedua Taubat Mukmin sejati.
Orang awam berusaha meninggalkan dosa dan masuk kedunia yang penuh amal soleh melalui dzikrullah dan amal ibadah, meninggalkan godaan hawa nafsu, memaksakan diri untuk beramal soleh. Ia harus meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah dan melakukan segala yang di perintahkan-Nya. Ini Taubat orang kebanyakan atau orang awam yang akan menghindarkannya dari azab neraka dan memasukkannya kedalam kenikmatan surga.

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (QS.Al-Baqarah:222)

Mukmin sejati, yakni Hamba Allah yang sebenarnya, berbeda dengan orang awam. Mereka pada tingkat hikmah dan Makrifat tentang Rubbubiyah, suatu peringkat yang yang lebih tinggi kedudukannya daripada keadaan yang paling tinggi dalam peringkat orang kebanyakan atau awam. Pada hakikatnya, bagi mereka tidak ada lagi anak tangga yang yang harus di panjat. Mereka telah sampai kepada peringkat dekat dengan Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan duniawi dan telah merasakan nikmat dan manisnya alam ruhaniyah. Mereka telah mengalami dan merasakan kedekatan dengan Allah dan nikmat memandang Allah dengan mata hati atau Bashirah dengan penuh keyakinan.
Dalam pandangan kebanyakan orang, hanya dunia yang zahir ini yang tampak, mereka hanya dapat merasakan kenikmatan yang bersifat kebendaan dan keduniaan semata. Padahal banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam wujud fisik keduniaan ini. Karena itu ganjaran dan kenikmatannya pun tidak sempurna.

"Orang-orang sufi berkata," Wujud diri sendiri itu adalah dosa paling besar, lebih besar dibandingkan dengan semua yang ada."

Mereka juga berpendapat, bahwa banyak perbuatan baik yang dilakukan orang-orang yang baik, tetapi mereka belum sampai keperingkat dekat dengan Allah. Karena itu nilai dan kualitas amalan mereka lebih rendah daripada kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan Allah.
Ole karena itu Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk memohon ampunan dari dosa yang tersembunyi yang kita sangka sebagai amal saleh dengan cara memohon ampunan kepada Allah sebanyak seratus kali sehari. Allah Swt memerintahkan beliau dengan firman-Nya:

"Dan mohonlah ampunan atas dosa-dosamu dan dosa-dosa orang-orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. (QS.Muhammad:19)

Allah menjadikan beliau sebagai contoh tentang bagaimana hamba-Nya harus bertaubat dengan cara memohon kepada Allah agar menafikan atau menghilangkan (mengosongkan) ego dalam diri, syakhshiyyah (personal) sendiri, segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan diri sendiri , bahkan menghapuskan wujud diri sendiri. Inilah tabiat yang Hakiki.
Taubat yang Hakiki dari segi pandangan para sufi maksudnya adalah membuat ghayrullah (selain Allah) dan kembali kepda Allah, kembali kehadirat-Nya dan memandang wajah-Nya. Ada di antara kalangan hamba Allah yang badannya dberdiri diatas bumi, tetapi hatinya berada di Arsy Allah Swt dan mereka memandang zat Allah. Untuk dapat memandang zat Allah itu, tidak mungkin dilakukan dengan hati yang terpaut di bumi atau terpaut di alam fana ini.

Didunia ini kita hanya dapat memandang sifat-sifat Allah yang memantul kecermin hati yang suci. Syyaidina Umar pernah berkata, "Hatiku melihat Allah dengan Cahaya Allah". Hati yang suci adalah cermin yang memantulkan sifat keindahan, kecintaan dan kesempurnaan Allah Swt.
Untuk mencapai tingkatan ini kita perlu membersihkan dan megilaukan hati. Dan untuk membersihkan hati dan mengilaukannya, kita perlu mencari guru yang matang di bidang ilmu keruhanian dan Tauhid Rubbubiyah yang telah menempa pengalaman berpadu dengan Allah. Guru yang semacam ini haruslah mereka yang telah sampai dekat dengan Allah dan sejak awal telah di utus Allah kedunia untuk menyempurnakan manusia yang mempunyai bakat menjadi seorang sufi dan kembali kehadirat illahi.

Dalam perjalanannya turun ke bumi untuk menjalankan tugasnya, si sufi harus mengikuti jejak Rasulullah Saw. Tetapi tugas atau fungsi mereka berbeda dari kenabiyan. Para Rasul diutuskan untuk semua manusia, baik yang umum dan khusus (insan kamil, sufi, waliyullah). Guru yang diutus Allah ini datang tidak untuk mengajar semua orang, melainkan hanya untuk orang-orang pilihan. Para Rasul di beri kebebasan penuh untuk menjalankan tugas mereka, sedangkan guru-guru sufi tidak dapat sepenuhnya menjalankan tugas yang seperti dilakukan para Rasul. Mereka harus mencontoh amalan yang dilakukan Nabi Besar Muhammad Saw, dengan kata lain Guru Sufi ini dilarang membuat syariat baru, dilarang berbuat seolah-olah dirinya pandai sehingga menyimpang dari garis yang telah di tentukan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Guru Sufi yang berlagak pandai dan menciptakan ajaran sendiri yang berlawanan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta mengaku dirinya sebagai Nabi atau Rasul seperti yang banyak kita lihat sekarang ini, sebenarnya adalah guru yang sesat dan perlu kita hindari.

Waliyullah atau Guru Sufi yang benar adalah mereka yang memberikan pelajaran kepada orang-orang pilihan yang akan menjadi Waliyullah atau sufi, tetapi tetap memenuhi syariat dan ajaran Nabi besar Muhammad Saw, dan tidak menyeleweng dari ajaran Nabi besar Muhammad Saw sedikitpun. Tugas Guru Sufi adalah membantu para murid untuk membersihkan hati mereka masing-masing, karena hati yang bersih itulah akan menjadi tempat untuk menerima hikmah atau ilham Rubbubiyah.

Guru atau Syyaikh Sufi ini mengikuti jalan dan contoh yang di bawa oleh sahabat-sahabat Nabi yang diberi gelar'orang-orang Sufi yang meninggalkan segala keduniaan dan dekat dengan Nabi. Mereka menerima ajaran dari Nabi karena dekatnya para sahabat dengan Nabi, mereka dapat mencapai suatu tingkat yang membolehkan mereka berbicara tentng rahasia Mi'raj Nabi.
Dari segi keruhaniaan, kedekatan guru yang bertaraf Waliyullah ini dekat dengan Nabi, seperti kedekatan Nabi dengan Allah. Mereka di Anugerahi Allah suatu Amanah unyuk menyimpan ilmu-ilmu dan rahasia-rahasia Rubbubiyah, mereka itulah penanggung atau pemikul sebagian tugas ke Nabian.

Tidak semua Alim Ulama berada dalam keadaan demikian. Dari segi Tashawuf, orang yang sampai ke tingkat itu berada lebih dekat di samping Nabi daripada Anak-anak dan keluarga Nabi itu sendiri. Dan mereka ibarat anak-anak Nabi dari segi keruhanian. Pertalian keruhanian ini lebih dekat dan lebih akrab daripada pertalian darah daging
Mereka pewaris Nabi yang sebenarnya, karena itu Ulama yang seperti ini adalah pewaris para Nabi.

Ilmu Rahasia tentang Keruhanian dan Rubbubiyah di letakkan dalam diri Nabi Muhammad Saw. rahasia itu tersembunyi dalam dirinya, di balik hijab yang berlapis-lapis. Nabi tidak membuka rahasia itu, kecuali kepada para sahabatnya yang terdekat. Selain karena faktor penyebaran, rahasia ini juga menjadi kekuatan bagi Islam untuk terus berdiri teguh dan berkuasa hingga hari kiamat.

Wabillahi Taufuk WalHidayah Wal'inayah