Kamis, 15 Mei 2008

Sifat Sufi Syyaidina Abu Bakr Ash-shiddiq Ra.


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal'khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal'hadi ila shirotikal mustaqiim wa'sholallahu alaiihi wa'ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq RA

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. Bahwa beliau pernah bersabda. “Umatku yang paling belas-kasih kepada sesama umat adalah Abu Bakr r.a., yang paling kokoh dan kuat memegang agama Allah adalah Umar r.a., yang paling pemalu adalah Utsman r.a., yang paling tahu tentang ilmu faraidh (hukum waris) adalah Zaid bin Tsabit r.a., yang paling faham tentang hukum halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal r.a., yang paling adil dalam memberikan keputusan hukum adalahAli r.a., Sedangkan sahabatku Abu Dzar r.a. adalah orang yang dialek bicaranya memiliki ketajaman dan kebenaran.” (H.r. Ahmad, Tirmidzi dari Anas, ath-Thabrani dari Jabir, dari Ibnu adi dari Ibnu Umar).

Adapun yang menyangkut masalah batin, maka kami akan memulainya dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw.:

Ikutilah dua orang setelahku yaitu: Abu Bakr dan Umar r.a.” (H.r. Tirmidzi dari Hudzaifah, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Abd dari Anas)

Sementara kami memulainya dengan Abu Bakr r.a lebih dahulu kemudian baru Umar r.a.

Sebagaimana berita yang saya terima dari Abu Utbah al-Halwa-ni----rahimahullah---yang pernah berkata, “Bolehkah aku memberitahu kalian tentang kondisi spiritual para sahabat Rasulullah? Pertama, bertemu dengan Allah lebih mereka senangi daripada hidup di dunia. Kedua, mereka tidak pernah takut musuh, baik mereka dalam jumlah sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak pernah takut miskin dan selalu yakin, bahwa Allah selalu memberinya rezeki. Keempat, jika dilanda wabah penyakit, mereka tidak pernah lari dari tempat tinggal sampai Allah memutuskan nasibnya. Mereka sangat khawatir dengan kematian dalam makna yang sebenarnya.”

Dikisahkan dari Muhammad bin Ali al-Kattani -rahimahullah- yang berkata, “Orang-orang dalam kurun waktu pertama Islam selalu bermuamalah denga agama sehingga agama itu menipis. Kemudian pada kurun kedua mereka bermuamalah dengan wafa’ (kesetian dan tepat janji), sehingga kesetiaan itu pun sirna. Kemudian pada kurun ketiga mereka bermuamalah dengan muru’ah (kesatria) sehingga kesatria itu pun lenyap. Pada kurun keempat bermuamalah dengan rasa malu, sampai akhirnya rasa malu itu pun hilang. Pada akhirnya manusia bermuamalah dengan landasan rasa suka dankekhawatiran.”

Keistemewaan Abu Bakr As-Shiddiq RA
Diriwayatkan dari Mutharraf bin Abdullah asy-Syukhair -rahimahullah- yang berkata: Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkata “Andaikan ada seseorang memanggil dari langit bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali satu orang, maka aku berharap satu orang itu adalah aku. Dan andaikan ada seseorang memanggil dari langit bahwa tidak ada yang masuk neraka kecuali satu orang, maka aku sangat takut orang tersebut adalah aku.”

Mutharraf -rahimahullah- berkata, “Demi Allah ini adalah ungkapan rasa takut yang sangat besar dan harapan yang sangat tinggi.”

Diriwayatkan dari Abu al-Abbas bin Atha’ -rahimahullah- bahwa, ia pernah pernah ditanya tentang firman Allah:

“Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya.” (Q.s. Ali Imran: 79)

Maka ia menjawab, “Artinya, jadilah kalian seperti Abu Bakr ash-Shiddiq. Karena saat Rasulullah wafat hati kaum muslimin goncang akibat wafatnya Rasul. Namun kepergian Rasulullah sama sekali tidak mempengaruhi lubuk hati Abu Bakr. Ia keluar dan berkata kepada umat Islam. ‘Wahai umat manusia, barang siapa menyembah Muhammad maka sesunggunhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah adalah Dzat yang senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati. Orang yang memiliki sifat rabbani ini, kejadian apapun sama sekali tidak mempengaruhi lubuk hatinya, meskipun orang-orang takut tergoncang.”

Abu Bakr al-Wasithi -rahimahullah- berkata, “Lisan (bahasa) kaum sufi yang pertama kali muncul dikalangan umat memalui lisan Abu Bakr adalah bahasa isyarat, yang kemudian oleh orang-orang yang memilikik kemampua pemahaman yang tajam diambil makna-makna lembut yang sering kali orang-orang yang berakal terkecoh dalam memahaminya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Apa yang dikatakan oleh al-Wasithi, bahwa lisan kaum sufi yang muncul pertama kali melalui lisan Abu Bakr ialah saat ia mengeluarkan seluruh harta miliknya yang diinfakkan demi agama Allah. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakr menjawab, “Allah dan Rasul-Nya”. (H.r. Tirmidzi dari Umar). Ia menjawab pertama kali dengan Allah, kemudia Rasul-Nya. Hal ini merupakan suatu isyarat yang sangat agung bagi para ahli tauhid dalam hakikat-hakikat panauhidan kepada Allah. Namun bukan berarti ini saja isyarat yang keluar dari lisan Abu Bakr. Masih sangat banyak isyarat-isyarat lain yang darinya bisa diambil kesimpulan-kesimpulan yang sangat lembut.

Isyarat-isyarat tersebut dapat diketahui dan dipahami oleh para ahli hakikat untuk mereka jadikan referensi dan cermin dalam berakhlak. Di antaranya ialah pidato Abu Bakr ketika ia naik diatas mimbar setelah rasulullah wafat, dimana hati para sahabat saat itu goncang dan khawatir kalau Islam akan hilang karena wafat dan hilangnya Rasulullah dari lingkungan mereka. Kemudian Abu Bakr berkata, “Barangsiapa menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah swt. Maka sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha hidup dan tidak akan pernah mati.” (H.r Ahmad, Abdurrazzaq dari Aisyah dan Ibanu Abbas, dan Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar).

Makna yang sangat halus dalam ungkapan tersebut ialah keteguhan dalam bertauhid dan berusaha memperkokoh hati para sahabat dalam bertauhid.

Diantara ungkapan yang lain ialah saat Perang Badar, ketika Rasulullah berdo’a:
“Ya Allah, jika sekelompok manusia (dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engakau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.”

Kemudian Abu Bakr berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu kepada Tuhan, sebab -demi Allah- Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.”(H.r. Muslim dan Tarmidzi dari Ibnu Abbas dan Umar).

Dimana janji itu adalah firman Allah swt., “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyuka kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman’. Kelak akan Aku jadikan rasa ketakutan kedalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12)

Di sini tampak satu keistimewaan Abu Bakr, dimana ia telah memiliki hakikat tashdiq ( pembenaran ) terhadap kemenangan yang dijanjikan Allah kepada umat Islam . Dimana hati para sahabat yang lain goncang . Ini menunjukkan hakikat keimanan dan keistimewaan Abu Bakr.

Jika ada orang yang bertanya “ Apa makna perubahan Rasulullah dan keteguhan hati Abu Bakr , sementara Rasulullah jauh lebih sempurna daripada Abu Bakr dalam segala kondisi spiritual?”

Maka jawabannya adalah karena Rasulullah lebih tahu tentang Allah daripada Abu Bakr . Sementara itu, Abu Bakr lebih kuat imannya daripada para sahabat Rasulullah yang lain . Keteguhan Abu Bakr mencerminkan hakikat keimanannya terhadap kebenaran janji Allah . Sedangkan perubahan pada diri Nabi adalah karena beliau lebih tahu tentang Allah. Sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakr dan juga sahabat yang lain. Apakah Anda tidak tahu , bahwa ketika angin bertiup kencang maka warna kulit beliau berubah, sementara tidak seorang pun dari sahabatnya yang warna kulitnya berubah ?

Rasulullah juga bersabda ,” Andaikan kalian tahu apa yang aku ketahui tentu kalian kurang bisa tertawa, banyak menangis, keluar menuju ke berbagai jalan { untuk mencari perlindungan kepada Allah }, dan tidak akan tenang di atas tempat tidur .” ( H.r. Bukhari, al-Hakim dan ath-Thabrani, lihat kembali hlm. 247).

Abu Bakr juga memiliki kekhususan di antara para sahabat dalam hal firasat dan ilham . Itu bisa diketahui dalam tiga kasus :

Pertama, ketika pendapat para sahabat Rasulullah telah mencapai titik sepakat untuk tidak memerangi orang-orang murtad yang tidak mau membayar zakat setelah wafat Rasulullah saw. Namun Abu Bakr tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk memerangi mereka . Kemudian ia berkata,”Demi allah , andaikan mereka tidak mau membayarku zakat unta dan kambing yang pernah mereka bayarkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka dengan pedang.” Sementara pendapat Abu Bakr inilah yang benar. Kemudian para sahabat berkata.” Sesungguhnya yang benar adalah pendapatnya sekalipun ia berbeda pendapat dengan sahabat-sahabat yang lain tentang apa yang mereka kemukakan.” Akhirnya sahabat-sahabat yang lain merujuk kepada pendapat Abu Bakr, dimana mereka melihat bahwa pendapat dialah yang benar.
Kedua, Saat ia berbeda pendapat dengan sebagaian besar sahabat mengenai penarikan mundur pasukan Usamah. Dan ia berkata,” Demi Allah, saya tidak akan mengingkari janji yang pernah disepakati oleh Rasullah.”
Ketiga, ialah ucapan Abu Bakr kepada Aisyah. “Sesungguhnya aku akan memberimu dua saudara laki-laki dn dua perempuan.” Aisyah saat itu hanya tahu bahwa ia hanya memiliki dua saudara laki-laki dan seorang perempuan.

Pada saat itu Abu Bakr memiliki seorang budak perempuan yang sedang hamil. Maka ia berkata,” Hati nuraniku mengatakan bahwa janin yang ada dalam rahimnya adalah perempuan.”

Ini menunjukkan firasat dan ilham yang sangat tajam dan sempurna.

Nabi saw bersabda:

“ Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin karena ia melihat dengan Nur Allah.” (H.r. ath-Thabrani dari Abu Umamah, Tirmidzi dari Abi Said, Abu Nu’aim dan al-Bazzar dari Anas).

Sementara itu pada diri Abu Bakr masih terdapat makna-makna lain yang banyak dijadikan referensi para ahli hakikat dan mereka yang mampu mengendalikan hati nurani. Dan jika disebutkan semua maka kitab ini akan menjadi sangat tebal.

Di ceritakan dari Bakr bin Abdullah al-Muzani yang mengatakan,”Abu Bakr tidak melibihi semua sahabat Rasul yang lain dalam hal banyak berpuasa dan shalat, namun ia memiliki kelebihan yang ada di dalam hatinya.”

Sebagian kaum sufi mengatakan, bahwa apa yang terjadi didalam hati Abu Bakr adalah cintanya kepada Allah Azza wa Jalla dan nasihat karena-Nya.

Disebutkan, Tatkala tiba waku shalat, Abu Bakr berkata, “Wahai anak Adam bangunlah ke neraka yang kalian nyalakan, kemudian padamkanlah.”

Diriwayatkan, bahwa suatu saat ia pernah makan makanan yang ada syubhatnya. Ketika ia tahu bahwa itu ada syubhatnya, maka ia muntahkan sembari berkata, “Demi Allah andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali dengan mengorbankan jiwa (ruh)ku maka akan aku keluarkan juga, Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tubuh yang diberi makan dari barang haram maka neraka lebih pantas untuknya.” (H.r. Tirmidzi danIbnu Hibban dari Ka’ab bin ‘Ajarah).

Abu Bakr pernah berkata, “Aku ingin menjadi tumbuhan hijau yang dimakan oleh binatang, dan tidak pernah diciptakan, karena aku takut siksa Allah dan ketakutan di hari Kiamat.”

Diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq yang mengatakan: Ada tiga ayat dalam kitab Allah yang menyibukkanku dari yang lain:

Pertama:
“Jika Allah menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghalanginya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan untukmu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.” (Q.s. Yunus: 107)

Maka aku tahu bahwa, apabila Allah menghendaki kebaikan untukku, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghilangkannya dariku selain Dia sendiri. Dan jika Dia menghendaki kejelekan untukku, maka tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkannya selain Dia sendiri.

Kedua:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Q.s. al-Baqarah: 152)

Maka demi Allah, sejak aku membaca ayat ini tidak lagi pernah memikirkan masalah rezekiku.”

Disebutkan pula, bahwa bait syair berikut adalah dari Abu Bakr ash-Shiddiq:

Wahai orang yang membanggakan dunia dan perhiasannya
Bukankah kebanggaan itu mengangkat tanah denga tanah

Jika Anda ingin melihat manusia yang paling mulia
Maka lihatlah seorang raja yang mengenakan pakaian orang miskin

Itulah yang besar kasih sayangnya dimata manusia
Itulah yang berguna bagi dunia dan agama.

Dikisahkan dari al-Junaid yang mengatakan, “Kalimat tentang tauhid yang paling mulia adalah apa yang dikatakan Abu Bakr, ‘Mahasuci Dzat Yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya’.

Sifat Sufi Umar bin Khathab

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal'khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal'hadi ila shirotikal mustaqiim wa'sholallahu alaiihi wa'ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.

Umar Bin Khathab R.A

Sementara itu tentang diri Umar bin Khaththab,.ra, maka ada Hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau pernah bersabda:

“Sungguh dalam umat-umat (terdahulu) terdapat orang orang yang dibisiki (muhaddatsin) dan diajak bicara oleh Tuhan (mukallamin). Kalau dalam umat ini ada, maka ia adalah Umar r.a.”
Sebagian orang yang memiliki kepahaman tinggi, ditanya tentang apa yang dimaksud muhaddatsun? Maka ia menjawab, bahwa Muhaddatsun adalah tingkatan kaum shiddiqun yang paling tinggi.

Bukti-bukti yang menunjukkan adalah sebagaimana yang diriwayatkan, bahwa suatu saat ia sedang berkhotbah. Kemudian ia berteriak di tengah-tengah khotbahnya, “Wahai Sariyah!, gunung, gunung!” Saat itu Sariyah bin Hishn sedang memimpin pasukan perang yang berada di ambang pintu Nahawand. Sementara di .depannya ada musuh yang jauhnya masih memakan perjalanan sekitar satu bulan. Kemudian ia mendengar suara Umar, lalu ia dengan pasukannya mulai bergerak menuju ke gunung, dan akhirnya mereka menang mengalahkan musuhnya.

Ditanyakan kepada Sariyah bin Hishn, “Bagaimana engkau tahu hal itu?” Ia menjawab, “Aku mendengar suara Umar r.a. berteriak, Wahai Sariyyah, gunung, gunung’!” (H.r. al-Baihaqi dari Amr bin al-Harits).
Diriwayatkan dariAbu Utsman an-Nahdi yang berkata, “Saya pernah melihat Umar mengenakan baju yang ditambal dua belas tambalan saat ia sedang berkhotbah.” (H.r. Malik dari Anas).

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a. yang berkata, “Semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang menunjukkan aibku kepadaku.”
Diriwayatkan dari Nabi saw. yang bersabda:
“Setan akan menyingkir dari bayang-bayang Umar r.a.
(H.r. Bukhari-Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ibnu Asakir dari Aisyah).

Dikisahkan, bahwa Umar pernah mengambil jerami dari tanah, kemudian berkata, “Andaikan aku tidak pernah dilahirkan ibuku, andaikan aku jerami ini dan andaikan aku tidak pernah wujud apa pun…..”

Diriwayatkan dari Umar ra. yang berkata, “Setiap kali aku ditimpa suatu musibah tentu Allah akan memberikan empat kenikmatan dalam musibah tersebut: Sebab musibah itu tidak menimpa agamaku, dan musibah itu tidak lebih besar daripada yang menimpaku. Sedangkan aku masih bisa ridha dengan musibah yang menimpaku, dan aku berharap pahala dari musibah itu.”

Umar r.a. berkata, “Andaikan sabar dan syukur itu dua ekor kendaran unta maka aku tidak akan peduli mana yang akan aku tunggangi. “
Suatu ketika ada seseorang datang kepada Umar r.a. yang mengadukan kefakirannya. Kemudian Umar bertanya kepadanya, “Apakah Anda masih memiliki makanan untuk makan malam Anda?”

Ia menjawab, “Ya!” Umar berkata, “Berarti Anda bukan orang fakir. “
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib yang berkata, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku cintai untuk berjumpa dengan Allah dengan wajah yang sama kecuali orang yang berkepribadian tenang ini, Umar.”
Diriwayatkan, pada suatu hari Ali bin Abi Thalib pernah melihat Umar r.a. lari di saat tengah hari. Lalu Ali bertanya tentang alasan apa yang membuatnya lari di tengah hari. Maka ia menjawab, “Aku telah menghilangkan unta sedekah (zakat), kemudian aku pergi untuk mencarinya.” Maka Ali berkata, “Wahai Amirul Mukminin engkau akan memberatkan para khalifah sesudahmu.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Orangorang ahli hakikat banyak mengambil suri teladan dari Umar dan menjadikannya sebagai referensi dari berbagai makna khusus dari perilaku Umar, seperti memilih mengenakan pakaian bertambal dan kasar, meninggalkan kesenangan nafsu, menghindari syubhat dan menampakkan kemuliaan-kemuliaan (karamat), tidak peduli terhadap orang yang mencacinya ketika kebenaran harus ditegakkan dan kebatilan harus dimusnahkan, memberikan persamaan hak antara orang-orang yang dekat dengan mereka yang jauh, berpegang teguh pada yang lebih berat dalam hal ketaatan kepada Allah dan riwayat-riwayat lain dimana bila kita uraikan akan menjadi panjang.

Adapun riwayat yang menyatakan.bahwa Umar melihat sekelompok manusia yang sedang duduk-duduk di masjid, kemudian ia perintah untuk mencari pekerjaan (rezeki), dan juga suratnya yang dikirimkan kepada Salman, adalah barangkali karena ia tahu mereka tidak mampu melakukan duduk di masjid sebagaimana mestinya. Mereka tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain, atau mungkin sebab-sebab yang lain. Oleh karenanya ia memerintah mereka untuk mencari pekerjaan. Sebab Nabi saw., Abu Bakar dan Umar r.a. telah melihat Ashhabush-Shuffah. Mereka adalah sekelompok orang yang jumlahnya sekitar tiga ratusan orang yang tinggal di masjid, namun Nabi, Abu Bakar dan Umar juga tidak membenci mereka dan tidak memerintah mereka keluar dari masjid untuk mencari nafkah.

Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia pernah berkata kepada saudaranya, Zaid bin Khaththab di saat perang Uhud, “Jika engkau mau, lepas saja baju besi yang aku kenakan ini kemudian engkau pakai.” Zaid menjawabnya, “Saya juga senang mati syahid, sebagaimana engkau juga menyukainya.”
Ini suatu isyarat yang sangat agung dari mereka, yang menunjukkan hakikat tawakal.

Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang semisal Namun sedikit yang kami sebutkan ini kami anggap cukup.
Diriwayatkan dari Umar yang mengatakan, “Aku menemukan ibadah dalam empat macam:
Pertama, menunaikan perintah Allah.
Kedua, menjauhi yang diharamkan Allah.
Ketiga, memerintah kebaikan demi mengharap pahala dan Allah.
Keempat, mencegah kemunkaran karena takut murka Allah

Mengenal Allah Melalui Allah


Bismillahir Rahmanir Rahiim

Allahumma sholi ala Syyaidina Muhammadinni fatihi lima ughliko wal'khotimi lima sabaqo wanasiril haqo bilhaqqi wal'hadi ila shirotikal mustaqiim wa'sholallahu alaiihi wa'ala alihi washobihi haqqo qodrihi wamiqdarihil aziim.



Sebuah peritiwa paling monumental dalam sejarah dunia, adalah turunnya Al-Qur’an pertama kali di Gua Hira’. Pertemuan Rasulullah Sayyidina Muhammad SAW, dengan Malaikat Jibril saat itu, bertepatan dengan Lailatul Qadr, merupakan representasi dari sebuah awal sekaligus akhir dari perjalanan waktu dunia yang terbatas, menuju Waktu Ilahi yang tiada hingga, Azali dan Abadi.

Betapa tidak. Ketika Jibril AS, memeluk beliau, sambil mendiktekan bacaan, “Iqra’!,” lalu dijawabnya “Maa Anaa Bi Qaari’” (Aku tak bisa membaca). Sebuah jawaban teologis, filosufis dan sekaligus Sufistik. Disebut teologis karena ketika itu Rasulullah berada di hadapan Wajah Allah, sehingga yang ada hanyalah Tauhidullah, bahkan dirinya sendiri sekali pun sirna dalam Tauhid sampai harus berkata, “Aku tak bisa membaca…”

Begitu juga sangat filosufis, karena dunia filsafat tak habis-habisnya mengurai peristiwa itu, sebagai landasan utama peradaban Tauhid di muka bumi, dan setiap kali dimaknai secara filosufis, muncul pula cahaya baru dibalik makna yang tersembunyi.

Bahkan juga sangat Sufistik, karena “Al-Qaari al-Haqiqi Huwa Allah Ta’ala”, Sang pembaca yang hakiki adalah Allah Ta’ala. Karena Dialah yang Berkalam, dan Yang Maha Tahu makna Kalam yang sesungguhnya.

Sampai ketiga kali, disaat Jibril AS meneruskan,
Iqro’ Bismi Robbikalladzi Khalaq….dst.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baru bisa menirukan. Disinilah rahasia Asma Allah tersembunyi – dan dalam buku karya KH. Abdul Hamid Husen ini akan terurai , bagaimana Rasulullah SAW mampu membaca ketika kelanjutan ayat kalimat pada ayat itu terbesit kalimat. Bismi Rabbik (Dengan Asma Tuhanmu). Seandainya boleh ditafsirkan, “Bacalah Al-Qur’an ini dengan Nama Tuhanmu. Siapa Nama Tuhanmu? “Allah!”, dengan kata lain, bacalah Al-Qur’an ini dengan Allah…Allah…Allah…”.

Dan memang demikian, akhirnya tak satu pun dari seluruh tinta yang menghabiskan tujuh lautan ruhani maupun tujuh lautan fisika, mampu menuliskan, melukiskan bahkan menggambarkan dahsyatnya Ilmu Allah dalam Kalamullah itu. Yang ada hanyalah gemuruh jiwa yang menggetarkan seluruh jagad semesta ruhani dan jasmani, dalam kristal jantung Rasulullah SAW, sampai beliau menggigil dalam Fana’ul fana’. Karena Wayabqqo Wajhu Rabbika Dzul-Jalaali wal-Ikraam, ketika itu.

“Zammiluuni…Zammiluuni….” Selimuti aku….selimuti aku…. Seakan Rasulullah SAW, berkata: “Selimuti aku….selimuti… karena Cahaya dari Maha CahayaMu yang memancar di seluruh jagad cerminku. Selimuti aku, selimuti…., betapa senyap, sunyi, beku, dingin, tiada tara dalam GenggamanMu…..Selimuti…Oh, selimuti….dan akulah sesungguhnya selimutMu….Akulah NamaMu, akulah Ismu Rabbik itu…Oh…..”

Saat itu, dan mulai kala itu, tiada hari tanpa Munajat, tiada kondisi dan waktu melainkan adalah waktu-waktu penuh Liqa’ Allah. Maka Ismu Rabbik itu melimpah begitu dahsyatnya tanpa bisa terucap, tertulis dan terbayang, menjadi Al-Asma’ul Husna, diantaranya, adalah Asmaul Husna dalam surat Al-Hasyr yang dikaji di buku ini.

Peristiwa Hira’ itu, juga awal mula sebuah ajaran tentang Dzikrullah dimulai. Gemuruh Dzikrullah, telah menyelimuti seluruh nadi, ruh dan sirr Rasulullah SAW, dalam hamparan jiwanya. Karena hanya jiwa-jiwa yang beriman saja yang bisa menjadi Istana Ilahiyah.

Bahkan, dari 99 Al-Asmaul Husna yang pernah dihaditskan oleh Rasulullah SAW, dibaca oleh Asy-Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Araby, kemudian tertulis dalam kitabnya, An-Nuurul Asna Bi-MunajaatiLlaahi Bi-Asmaail Husnaa. 99 Munajat yang begitu indah, sekaligus menggambarkan Huquq ar-Rubuiyyah (Hak-hak Ketuhahan) dan Huqul ‘Ibad wal ‘Ubudiyah (hak-hak kehambaan dan ubudiyah).

Misalnya, ketika membaca AsmaNya, “Allah”, Ibnu ‘Araby bermunajat:
Ya Allah, tunjukkan padaku, bersamaMu, kepadaMu. Limpahilah rizki keteguhan (keketapan) di sisi WujudMu, sepanjang diriku dengan nya, untuk beradab di hadapanMu….

Yaa…Rahmaan, kasihanilah daku dengan pemenuhan paripurna nikmat-nikmatMu, tersampainya cita-cita ketika menahan cobaan-cobaan dahsyat dan ujianMu.

Yaa… Rahiim, sayangilah daku dengan memasukan ke syurgaMu dan bersuka ria dengan taqarrub dan memandangMu…

Yaa Maalik, Wahai….DiRaja dunia dan akhirat, dengan kekuasaan mutlak paripurna, jadikan diriku sampai di Jannatun Na’im dan Kerajaan Agung dengan beramal penuh total.

Yaa.. Quddus, sucikan diriku dari aib-aib dan bencana, sucikan diriku dari dosa-dosa dan kejahatan diri.

Yaa…Salaam, selamatkan daku dari seluruh sifat yang tercela, dan jadikan diriku dari golongan orang yang dating kepadaMu dengan Qalbun Saliim.

Ya… Mu’min, amanlahlah daku di hari yang paling mengejutkan, limpahilan rizki padaku dengan bertambahnya iman kepadaMu, sebagai bagianku.

Yaa…Muhaimin, Jadikanlah diriku sebagai penyaksi dan pemandang atas pemeliharaanMu, dan jadikanlah daku sebagai pemelihara dan pemegang amanah-amanahMu dan Janji-janjiMu.

Yaa…Aziz, Jadikanlah daku dengan PerkasaMu termasuk orang-orang yang merasa hina di hadapanMu dan berikanlah padaku amaliah dengan amal-amal akhirat di sisiMu.

Yaa… Jabbaar…,Paksalah diriku untuk berselaras dengan KehendakMu, dan janganlah Engkau jadikan aku sebagai pemaksa pada hamba-hambaMu.

Yaa..Mutakabbir, jadikanlah daku termasuk orang-orang yang tawadlu’ atas kebesaran-kebesaranMu, tergolong orang-orang yang tunduk atas hukum dan keputusanMu.

Yaa…Khaaliq, ciptakan pertolongan dalam hatiku untuk taat kepadaMu, dan lindungi daku dari kezaliman dan pengikutnya diantara makhluk-makhlukMu.

Yaa..Baari’, jadikanlah diriku dari golongan yang terbaik dari manusia, dan riaslah daku dengan akhlak baik yang diridloi.

Yaa…Mushawwir, Rupakanlah diriku dengan bentuk ubudiyah padaMu, dan cahayailah daku dengan cahaya-cahaya ma’rifatMu.

Dan seterusnya sampai sembilan puluh sembilan Nama Allah.

Itulah implementasi lain, dari

”Berakhlaqlah dengan Akhlaq-Akhlaq Allah”.

Maka Al-Asmaul Husna, adalah hampiran pertama, ketika seorang hamba ingin merespon Akhlaqullah, melalui munajat-munajat sebagaimana digambarkan oleh Ibnu ‘Araby dan juga di dalam uraian buku ini.